DENPASAR , gianyardaily Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, menyoroti keberlanjutan kain tenun Endek Bali, khususnya minimnya regenerasi penenun di kalangan generasi muda.
Hal tersebut disampaikan Putri Koster saat membuka Dekranasda Bali Fashion Day di Gedung Ksirarnawa, Art Centre Denpasar, Selasa (22/9/2026).
Menurut Putri Koster, pelestarian Endek Bali tidak cukup hanya dengan meningkatkan penggunaan dan pemasaran. Keberlanjutan produksi juga menjadi hal penting agar keterampilan menenun tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Fenomena yang ada saat ini semakin kita memakai kain tenun Endek Bali, tetapi kenapa minat anak-anak muda kita untuk menenun sangat kecil. Ini sangat berbanding terbalik,” ujar Putri Koster.
Ia juga menyoroti penenun yang sebelumnya aktif memproduksi kain tenun, namun kemudian memilih berhenti. Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan bagi keberlangsungan ekosistem tenun Bali.
“Tenun Endek kita sedang tidak baik-baik saja,” imbuhnya.
Putri Koster mengajak seluruh pihak dalam ekosistem tenun, mulai dari penenun, pedagang hingga konsumen, untuk memiliki kesadaran bersama dalam menjaga keberadaan produk tenun Bali.
Ia juga mengingatkan pedagang agar tidak menjual produk tenun dari luar Bali sebagai produk lokal Bali. Menurutnya, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap keberlangsungan industri tenun lokal sekaligus membuat konsumen kesulitan membedakan produk yang benar-benar diproduksi oleh perajin Bali.
Dalam kesempatan tersebut, Putri Koster menyebut hasil survei yang pernah dilakukan bersama Universitas Hindu Indonesia (UNHI) terkait peredaran Endek Bali di pasaran.
“Ketika UNHI membantu kami melakukan survei, hasilnya sangat mencengangkan. 83 persen Endek Bali yang beredar di pasaran berasal dari luar Bali dan hanya 17 persennya saja yang dari Bali,” jelasnya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Bali untuk memastikan Endek tetap memiliki ruang sebagai produk budaya sekaligus produk ekonomi masyarakat lokal.
Putri Koster juga mengajak generasi muda Bali tidak hanya menggunakan kain Endek, tetapi turut mengenal dan mempelajari proses pembuatannya. Menurutnya, regenerasi penenun menjadi kunci agar kemampuan memproduksi kain tenun tetap dimiliki masyarakat Bali.
“Suatu saat bila anak-anak Bali tidak bisa menenun lagi, tenun dan Endek Bali akan diambil oleh daerah lain. Namanya bukan lagi Endek Bali, mungkin saja Endek Troso atau Endek Jepara. Orang Bali hanya akan menjadi pemakai tanpa bisa menenunnya lagi,” katanya.
Selain regenerasi, ia mengingatkan masyarakat sebagai konsumen agar lebih cermat dalam memilih produk tenun. Harga murah, kata dia, tidak seharusnya menjadi satu-satunya pertimbangan. Asal-usul, kualitas produk, serta dukungan terhadap perajin lokal juga perlu menjadi perhatian.
Dalam upaya memberikan perlindungan terhadap kekayaan intelektual dan produk budaya Bali, Putri Koster mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kanwil Kementerian Hukum Wilayah Bali.
Ia menegaskan terdapat ketentuan hukum yang memberikan perlindungan terhadap karya dan produk budaya, termasuk hak cipta, beserta sanksi bagi pihak yang melanggar ketentuan.
“Kedepannya kita akan mulai tegakkan sanksinya bagi para pelanggar,” ungkapnya.
Sementara itu, Dekranasda Bali Fashion Day menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus mempromosikan penggunaan kain tradisional Bali. Kegiatan tersebut melibatkan peragawan dan peragawati dari sejumlah perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali.
Sejumlah instansi yang terlibat di antaranya Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Bali, serta Komisi Pemilihan Umum Provinsi Bali.
Melalui kegiatan tersebut, penggunaan kain tradisional Bali diharapkan tidak berhenti pada aspek fesyen, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kerajinan, memperkuat posisi perajin lokal, serta mendorong generasi muda untuk mengenal dan meneruskan keterampilan menenun sebagai bagian dari warisan budaya Bali.











